Radical Grace = Hyper Grace
Saat ini sebagian gereja-gereja di Indonesia “heboh” soal pengajaran
(baru) tentang Hyper Grace. Berbagai diskusi, seminar mulai digelar
untuk membicarakan, menelaah apa isi ajaran ini. Redaksi menerima
artikel yang bertajuk “Radical Grace adalah Hyper Grace” karya
Pdt.Nicodemus Yuliastomo. M.Th, Gembala GBI HOPE Makassar-Sulawesi
Selatan. Ia pernah menyajikan tema ini dalam bentuk makalah pada
acara fellowship para pelayan Tuhan GBI Perwil Makassar,
Sulawesi-Selatan (Senen, 3/8). Selamat Membaca !.
Saat ini kita hidup di suatu era dimana dunia terus berupaya menyajikan
kemudahan,kenyamanan, kepuasan dan ketentraman bagi manusia. Pada saat
yang sama, di dunia rohani telah berkembang suatu ajaran yang sama
dengan karakter tersebut.
APA ITU RADICAL GRACE/HYPER GRACE ?.“Radical Grace”
ajaran kasih karunia yang mudah dicerna dan diterima logika, memberi
memotivasi dan inspirasi, berpandangan positif dengan menghindari segala
hal negatif yang bersifat memberatkan, menyengsarakan, menuduh,
menghakimi dan menuntut seseorang. Bagi jemaat awam tentu pengajaran ini
mudah memikat mereka.
SIAPA TOKOH RADICAL GRAGE/HYPER GRACE?. Ajaran “kasih
karunia” yang biasa disebut “Grace Revolution, Gospel Revolusion atau
pun Radical Grace “, dikembangkan dan dipopulerkan oleh Joseph Prince,
Gembala Senior di New Creation Church, Singapura.
REFERENSI KEPENULISAN. Buku “Destined to Reign”
(Ditakdirkan untuk Berkuasa) menjadi acuan artikel ini adalah salah satu
bukunya yang terkenal membahas pemahaman tersebut. Pada saat buku ini
ditulis tahun 2007 jumlah jemaatnya mencapai sekitar 19.000-an jiwa ,
sekarang diperkirakan mencapai 30.000-an jiwa.
Sedangkan “Hyper Grace” adalah meminjam istilah yang dimunculkan oleh
Dr Michael Brown dalam bukunya “Hyper-Grace: Exposing the Dangers of the
Modern Grace Message (2014).” Buku ini menanggapi dan mengkritik ajaran
kasih karunia “Grace Revolution“ yang menurutnya kacau, melebihi dan
melenceng dari apa yang diajarkan oleh Alkitab. (Tulisan ini disajikan
secara populer dan tidak membahas secara khusus buku Dr.Michael Brown).
A. AJARAN RADICAL GRACE/HYPER GRACE. Secara
keseluruhan “radical grace “ yang banyak diurai dalam buku “Destined to
Reign” (sebagai kutipan selanjutnya di singkat DTR) membahas tentang
“keselamatan adalah kasih karunia dan dampak kasih karunia bagi
kehidupan orang percaya” dengan muatan-muatan ajaran sebagai berikut :
1.Kasih karunia bersifat semua dan selamanya.Konsep
dasar kasih karunia “radical grace“ di dasarkan pada kata “segala dan
selama-lamanya“ yang ada di Kolose 2:13 dan Ibrani 10:14. Kolose 2:13
Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak
disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan
Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita. Ibrani 10:14 Sebab
oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya
mereka yang Ia kuduskan.
Berdasarkan ayat-ayat itu, “radical grace“ mengajarkan bahwa kasih
karunia bagi penebusan dosa bersifat semua dan selamanya, yang berarti
setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, maka semua dosanya sudah
diampuni. Baik dosa keturunan, dosa yang diperbuat di masa lalu, dosa
yang diperbuatnya saat ini dan dosa yang belum diperbuatnya di masa akan
datang.
AJARAN JOSEPH PRINCE TENTANG DOSA. Joseph Prince
mengatakan,” Semua dosa anda – di masa lalu, masa kini, dan masa depan –
sudah dibasuh oleh darah-Nya yang kudus. Anda sepenuhnya diampuni saat
Anda menerima Yesus ke dalam hidup Anda. Anda tidak pernah lagi dianggap
bertanggung jawab atas dosa-dosa Anda. Anda telah dibenarkan sama
seperti Yesus bukan karena tingkah laku Anda sendiri, melainkan iman
kepada-Nya dan karya-Nya yang sempurna di kayu salib (DTR, hal.2.).”
Melalui konsep dasar ini kemudian dibangunlah pemahaman-pemahaman lain
yang sebenarnya juga lahir atau merupakan konsekuensi logis dari apa
yang diyakininya tersebut :
a.Orang percaya tidak perlu bertanggungjawab dan minta ampun atas dosanya sekarang.Ajaran
“radical grace “ menyebutkan bahwa orang percaya tidak perlu lagi
bertanggung jawab atas dosa-dosanya yang diperbuatnya sekarang dan
meminta ampun karena secara otomatis sudah diampuni, ”Kita tidak perlu
mengakui dosa-dosa kita supaya kita diampuni.
Kita mengakui dosa-dosa kita karena kita sudah diampuni. Jika saya
mengatakan “ mengakui dosa-dosa kita “, saya sedang berbicara tentang
bersikap terbuka kepada Tuhan. Saya tidak pergi ke hadirat-Nya untuk
memohon pengampunan. Tidak, berbicara kepada-Nya karena saya mengetahui
bahwa saya sudah diampuni ( DTR, hal.101-102).”
b .Orang percaya tidak perlu mengoreksi diri atas dosanya.Orang
percaya juga tidak perlu mengoreksi diri, menyadari dosanya, bahkan
kalau ada suara hati dan pikiran yang menunjukkan dosanya, itu dianggap
suara dari iblis, karena dosa orang percaya sudah diampuni. Joseph
Prince mengajarkan,”Strategi iblis adalah membuat Anda merasa tidak
layak untuk memasuki hadirat Tuhan.
Ia akan membanjiri Anda dengan pemikiran-pemikiran penghakiman dengan
menuduh Anda tidak layak karena mempunyai pikiran-pikiran yang salah
atau mengatakan kata-kata kasar terhadap seseorang. Ia akan memberikan
Anda 1001 macam alasan mengapa Anda tidak layak untuk menerima
berkat-berkat Tuhan. Namun, sebenarnya apa pun perasaan salah Anda atau
kebiasaan buruk yang telah menundukkan Anda, darah Yesus menjaga Anda
tetap bersih. Darah Yesus membuat Anda layak mempunyai akses
terus-menerus kepada Tuhan Yang Mahatinggi. Karena Anda berada di bawah
air terjun pengampunan ini, setiap doa yang Anda panjatkan sangat
bermanfaat (DTR, hal.112).”
c. Roh Kudus tidak pernah menegur orang percaya.Pengajaran
“radical grace “ menyebutkan bahwa,” Roh Kudus tidak pernah menegur
anda tentang dosa-dosa anda. Ia tidak pernah menunjukkan kesalahan anda.
Saya menantang anda untuk menemukan ayat dalam Alkitab yang
memberitahukan Anda bahwa Roh Kudus telah menegur tentang dosa-dosa
Anda. Anda tidak akan pernah menemukannya ! (DTR,hal. 132)”.
d.Orang percaya tidak bisa melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.“Radical
grace “ mengajarkan bahwa orang percaya tidak bisa melakukan apa yang
disebut dosa yang tidak bisa diampuni, karena semua dosanya sudah
diampuni,”Perkenankan saya menyatakan sekali dan untuk selamanya bahwa
tidak ada dosa yang dilakukan orang Kristen yang tidak dapat diampuni.
Saat anda mengerti mengapa Tuhan mengutus Roh Kudus, Anda akan menyadari
bahwa dosa yang tidak dapat diampuni adalah menolak Yesus secara
konsisten ! (DTR, hal.89). Karena itu menghujat Roh Kudus berarti secara
konsisten menolak pribadi Kristus yang Roh Kudus saksikan
(DTR.hal.89).”
2.Kasih karunia adalah pribadi Yesus sendiri.Menurut
pengajaran “radical grace “ kasih karunia itu adalah pribadi yaitu Tuhan
Yesus sendiri,” Kasih karunia bukan suatu teologi. Itu bukan suatu
topik yang dibicarakan. Itu bukan suatu dokrin. Itu adalah suatu Pribadi
dan nama-Nya adalah Yesus. Itulah sebabnya Tuhan ingin anda menerima
kelimpahan kasih karunia karena mempunyai kelimpahan kasih karunia
adalah mempunyai kelimpahan Yesus ! (DTR, hal.24).”
3.Kasih karunia itu dimulai dari ketika Tuhan Yesus disalib.Bagi
kaum “radical grace“ kasih karunia itu dimulai dari ketika Tuhan Yesus
di salib,” Mereka tidak menyadari bahkan beberapa perkataan yang Yesus
ucapkan dalam keempat Injil adalah bagian dari Perjanjian Lama. Semua
itu diucapkan sebelum salib. Perjanjian Baru dimulai baru setelah salib,
saat Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta ( DTR, hal.90).”
4. Iman tidak timbul hanya dari mendengarkan Firman Tuhan.Mengenai
iman timbul dari mendengarkan Firman Tuhan, Radikal Grace meyakini
bahwa,” Iman tidak timbul hanya dari mendengarkan Firman Tuhan karena
Firman Tuhan akan meliputi segala sesuatu dalam Alkitab, termasuk hukum
Taurat Musa.
Tidak ada pemberian iman saat anda mendengarkan Sepuluh Perintah Allah
diberitakan. Iman timbul hanya dari mendengarkan Firman Kristus. Ini
tidak berarti bahwa anda seharusnya hanya mendengarkan khotbah dari
bagian-bagian Alkitab anda yang ditulis dengan huruf berwarna merah,
yang menandakan bahwa Yesuslah yang mengucapkannya.
Lagi pula, menuliskan apa yang Yesus ucapkan dalam Alkitab dengan huruf
merah hanyalah kebiasaan manusia. Mendengarkan Firman Kristus adalah
mendengarkan pemberitaan dan pengajaran yang telah disaring melalui
Perjanjian Baru kasih karunia dan karya Yesus yang sempurna (DTR, hal.
73).”
.5.Segala sesuatu harus baik. Allah itu baik, maka
segala sesuatu yang berasal dari-Nya tidak ada kesan yang tidak baik,“
Salah satu ajaran paling jahat yang pernah saya dengar adalah bahwa
Tuhan akan mendidik anak-anak-Nya dengan menggunakan penyakit, wabah,
kecelakaan, dan tragedy (DTR, hal.60-61)”; “Marilah kita mulai
mengharapkan yang baik dari Tuhan. Tolaklah apa pun yang bahkan secara
halus mengesankan bahwa Tuhan marah kepada Anda, dan akan mendisiplinkan
anda dengan penyakit dan kecelakaan jika anda gagal! (DTR, hal.67)”.
B.Pembahasan “Radical Grace” adalah “Hyper Grace.”Apa
yang diajarkan oleh “radical grace” adalah “hyper grace,” dianggap
sebagai “hiper grace” karena ajaran kasih karunia yang radikal ini
melampaui, melebihi, bahkan bertentangan dengan apa yang dikatakan dan
diajarkan Alkitab. Berikut ini beberapa pengoreksian dari ketidakbenaran
dari apa yang diajarkan oleh “radical grace “:
1.”Radikal grace” mencampur - adukan antara keselamatan dan hidup dalam keselamatan.Secara
esensi ada perbedaan antara keselamatan dan hidup di dalam keselamatan.
Di dalam Efesus 2:8 dikatakan,” Sebab karena kasih karunia kamu
diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
kemudian Filipi 2:12 : “ Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu
senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut
dan gentar, ……..”
Kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa, membuat manusia dengan dirinya
sendiri, upayanya sendiri tidak bisa selamat, hanya oleh anugerah yang
diberikan Allah melalui kematian Kristus di kayu salib maka manusia bisa
selamat.Manusia yang berdosa ditebus dan dibenarkan, hal ini biasa
disebut proses pembenaran (Justification).Pada saat inilah orang yang
ditebus dari dosa itu memiliki status sebagai orang yang dibenarkan atau
orang percaya.
Status ini memang bersifat ditebus dan dibenarkan dari dosa keturunan,
masa lalu, masa sekarang dan akan datang. Namun, memiliki status sebagai
orang yang dibenarkan bukan berarti kehilangan kebebasan pribadi
sebagai manusia yang bertanggung-jawab.
Setelah melalui proses ”justification” orang percaya pada saat yang
sama dan ke depannya, menjalani proses pemurnian atau pengukudusan
(sanctification). Proses ini terjadi di dalam kehidupan orang percaya
atau hidup di dalam keselamatan. Sebagai gambar dan rupa Allah orang
percaya terus disempurnakan dan dimurnikan semakin lama-semakin memiliki
sifat dan karakter seperti Kristus.Pada proses pengudusan di dalam
mengerjakan keselamatan ini, orang percaya melibatkan tanggungjawabnya
sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas.
DI DALAM KESELAMATAN : Di sinilah peran kasih karunia
itu berbeda. Kalau di dalam keselamatan kasih karunia diberikan bukan
karena perbuatan baik manusia.
DI DALAM KEHIDUPAN KESELAMATAN : orang percaya terus
meminta kasih karunia Allah agar tetap hidup sebagai orang percaya.
Bukan lagi untuk menebus dosa keturunan, tetapi bagaimana terus hidup
dalam kasih karunia keselamatan.
Hidup sebagai umat Allah terjadi proses interaksi,komunikasi, dan
persekutuan lewat kehadiran Allah dalam hidup orang percaya yaitu
melalui ibadah, mendengarkan Firman Tuhan, dan relasi pribadi dengan
Allah melalui doa-doa pribadi. Di dalam hubungan inilah dengan sikap
hormat dan takut dalam iman percaya kepada Tuhan, Allah melalui Roh
Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya.
Pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya meliputi : Memimpin
ke dalam seluruh kebenaran (Yoh.16:13). Membawa ke dalam seluruh
kebenaran bukan berarti hanya mengingatkan bahwa orang percaya secara
status sudah benar, sehingga secara otomatis tanpa minta ampun sudah
benar, tetapi termasuk di dalamnya mengingatkan kalau kita tanpa sadar
atau dengan kesadaran telah berbuat dosa. Roh Kudus bekerja di dalam
diri orang percaya.
Secara menyeluruh di dalam hubungan Allah dengan orang percaya dalam
kehidupan keselamatan sebagai proses pengudusan, karya Roh Kudus dan
tanggung jawab orang percaya meliputi antara lain : Penolong yang
menyertai (Yohanes 14:16), berdiam di dalam hati orang percaya (Roma
8:9; 1 Korintus 6:19, 2; 12:13), mengingatkan manusia kepada semua yang
Yesus pernah katakan dan ajarkan (Yohanes 15:26; 1 Korintus 12:3) dan
masih banyak lagi lainnya.
Pada prinsipnya, ketiga Pribadi Tritunggal (Allah Bapa, Allah Anak dan
Allah Roh Kudus) akan bekerja bagaimana orang percaya hidup sesuai
dengan kehendak-Nya, termasuk di dalamnya menegur, menasehati, mengajar,
bahkan kadangkala mengijinkan masalah terjadi supaya kita percaya dan
kembali kepada Allah.
Sedangkan tanggung-jawab orang percaya adalah meresponi kasih karunia
Allah di dalam keselamatan dengan melakukan apa yang manusia bisa
lakukan. Di seluruh Alkitab di dalam PL dan PB kita menemukan kata dan
kalimat yang berisi larangan, ajuran, teguran, nasehat, peringatan dan
lain-lain yang menunjukkan supaya kita menjalani dan melakukan segala
sesuatu di dalam hidup ini sebagai orang percaya. Bahkan di dalam
kebebasannya orang percaya juga bisa hidup menurut kedagingan, melawan
Allah dan menghujat Roh Kudus.
Pada prinsipnya di dalam kehidupan menjalankan keselamatan sebagai
proses pemurnian, kita terus meminta kasih karunia Allah agar tetap ada
di dalam kehendak-Nya, dengan diberi kekuatan dan hikmat Allah dalam
menjalankan Firman Tuhan.Hal lain yang perlu dipahami dari ajaran
“radical grace” sebagai ‘hyper grace” adalah meskipun memang kasih
karunia keselamatan berdampak pada kehidupan orang percaya, namun tidak
pada tempatnya menyeret pesan Alkitab tidak sesuai dengan konteks dan
tujuannya.
Hal ini menimbulkan kebingunan dan tidak utuh, bahkan kesalahan fatal.
“Radical grace” mengajarkan Tuhan ingin kita berhenti berusaha
mengupayakan keberhasilan, dan mulai menerima kemurahan berkat-berkat
dan kesembuhan yang Yesus capai di kayu salib.
Saat Ia digantung pada kayu salip sekitar 2.000 tahun yang lalu. Ia
berseru dengan suara nyaring, Sudah selesai ! Segala sesuatu yang anda
dan saya perlu untuk berkuasa dalam hidup kita sudah dicapai Yesus di
kayu salib demi kita. Itulah sebabnya mengapa kita menyebut apa yang
Yesus lakukan dikayu salib “ Karya-Nya yang Sempurna !” Ia
menyelesaikannya. Ia melengkapinya. Itu sudah diselesaikan !(DTR,
hal.5).
Memang benar bahwa segala berkat kita datangnya dari Tuhan dan itu
merupakan kasih karunia, tetapi pesan salib yang utama adalah untuk
keselamatan itu sendiri, bukan untuk hal praktis dalam kehidupan orang
percaya. Keselamatan tidak ada kontribusi manusia, sedangkan mencapai
keberhasilan, dan berkat-berkat-Nya kita harus beriman dan bekerja.
Sudah selesai itu berbicara esensi yaitu keselamatan, dosamu sudah
dibayar lunas.
2.Kasih karunia bukan pribadi. Kasih karunia adalah
bagian dari sifat Allah, bukan pribadi atau Tuhan Yesus sendiri. Tuhan
Yesus bisa dikatakan wujud atau ungkapan dari kasih karunia Allah untuk
menebus dosa manusia. Ciri-ciri dari pribadi diantaranya memiliki
pengetahuan,perasaan, bisa berbicara atau berkomunikasi, kasih karunia
tidak bisa seperti itu.
Alkitab tidak pernah sama sekali menunjukkan secara tertulis atau pun
tidak tertulis bahwa kasih karunia itu pribadi. Alkitab tidak pernah
mengajarkan untuk menyembah, memuji dan meninggikan kasih karunia. Kalau
mempercayai kasih karunia untuk keselamatan dan hidup di dalam kasih
karunia itu semua tidak terlepas sebagai kasih karunia Allah Tritunggal.
Allah Tritunggal-lah sebagai pribadi yang kita sembah dan percayai yang
memberikan kasih karunia-Nya kepada setiap orang yang percaya
kepadanya.
3.Kasih karunia itu dimulai ketika Kristus datang ke dunia.Ketika
Kristus datang ke dalam dunia dan mengajarkan kebenaran, sesungguhnya
Tuhan sudah memberikan kasih karunia keselamatan. Siapa yang percaya
kepada-Nya mereka akan diselamatkan, mereka diselamatkan bukan karena
perbuatan baik mereka tetapi karena mereka percaya. Dia berkuasa
mengampuni dosa (Mrk 2:10). Karena imannya orang lumpuh diampuni dosanya
(Mat_9:2). Karena imannya salah satu penjahat yang disalib bersama
Yesus diselamatkan (Luk 23:43). Semua terjadi sebelum peristiwa salib.
Salib sendiri merupakan peristiwa demonstrasi kasih Allah kepada
manusia, bahwa Anak Domba harus mati menumpahkan darah-Nya bagi
penebusan dosa manusia. Pada saat Tuhan Yesus disalib maka penggenapan
Perjanjian Lama terjadi. Segala bentuk ritual, kehidupan agamawi dan
masa hukum Taurat diganti dengan era baru dengan zaman kasih karunia.
Melalui salib, Tuhan menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi dan
memproklamirkan kemenangan Kristus atas dosa dan kuasa iblis.
4. Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Tuhan.Alkitab
menyatakan dengan jelas di dalam 2 Timotius 3:15-16 “ Ingatlah juga
bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi
hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada
Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Bahwa semua yang tertulis di
dalam Kitab Suci merupakan ilham Allah, sehinga mulai dari Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Allah.
Memisahkan Firman Tuhan dengan Firman Kristus, menunjukkan ketidak-
pahaman tentang Firman Tuhan dan suatu bentuk penyimpangan. Memang benar
bahwa seluruh isi Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu harus dilihat
dalam terang kasih karunia Kristus, namun bahwa semua yang kita lakukan
tidak menyelamatkan kita, karena kita diselamatkan oleh anugerah Allah.
Bahwa hidup kita harus terus di dalam kasih karunia Allah, yaitu di
dalam terang Firman Allah.
5.Baik tidak selalu enak dan nyaman.Berpikir positif
baik, tetapi yang tidak baik bukan berarti tidak positif. Berpikir bahwa
Allah itu baik maka yang keluar dari yang baik itu tidak selalu yang
enak. Orang minum jamu, disuntik, menjalankan segala bentuk terapi,
dididik, dilatih itu semua tidak enak, tetapi itu semua positif dan baik
karena menghasilkan sesuatu yang baik.
Begitu juga yang terjadi dalam karya kasih karunia Kristus, begitu juga
yang terjadi bagi orang percaya dalam mengikut Kristus. Menjalankan
Firman Tuhan itu tidak selalu enak, memberitakan Firman Tuhan itu tidak
selalu enak, menjadi orang Kristen itu tidak selalu enak. Murid-murid
Tuhan Yesus banyak yang harus jadi martir.
Tuhan juga mengijinkan pencobaan-pencobaan supaya kita tahan uji, iman
kita menjadi murni, dan lain-lain. Yak 1:12 “Berbahagialah orang yang
bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan
menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang
mengasihi Dia”.
Mengikut Kristus bukan enak tidak enak, tetapi apakah semuanya sesuai
dengan kehendak-Nya, sesuai dengan kasih karunia-Nya. Matius 16:24 Lalu
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut
Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
RADICAL GRACE BUKAN CALVINIS DAN SEBALIKNYA. Ada
kecenderungan menghubungkan ajaran “Radical Grace” dengan pemahaman
Calvinis. Perlu digaris-bawahi bahwa dua ajaran ini sangat berbeda,
tidak sama dan tidak berhubungan. Pemikiran dasar yang melatar
belakangi, metode penafsiran, melihat Alkitab dan teologi yang dibangun
juga sangat berbeda. Jadi “Radical Grace” bukan bagian dari Calvinis
demikian juga sebaliknya. [Pdt.Nicodemus Yuliastomo. M.Th - Gembala GBI
HOPE Makassar – Sulawesi Selatan].